Perspektif Saya : Regista

Beberapa minggu yang lalu, beberapa pengamat sepakbola Eropa terlihat antusias ketika membicarakan seorang Michael Carrick. Bermain di Manchester United sejak hampir satu dekade yang lalu dan dipanggil oleh timnas Inggris sejak 2001, Carrick agaknya kurang mendapat perhatian publik sebagai pemain penting di United.

Pada umurnya yang ke-33, Carrick baru saja menandatangani perpanjangan kontrak selama satu tahun bersama klubnya sebelum pertandingan persahabatan internasionalnya melawan Italia di Turin. Aku melihatnya sebagai perpanjangan kontrak yang mempunyai benefit untuk Manchester United. Louis Van Gaal telah membuat Carrick sebagai poros penting dalam sistem yang dibawanya di United, sebagai penghubung antara dua gelandang pekerja keras, Ander Herrera dan Marouane Fellaini. Keputusan Roy Hodgson di timnas Inggris untuk memberikan Carrick posisi inti di laga melawan Italia, sebagai pengganti Jack Wilshire yang cedera, ternyata tepat seperti yang diinginkan dalam sistem taktikalnya khususnya posisi gelandang tengah.

Meskipun sekarang Carrick sedang berada dalam top performance nya, nyatanya karir Carrick tetap tidak stabil. Posisi Deep-lying Playmaker yang merupakan posisi naturalnya tidak bisa menjamin posisi di tim inti setiap pekannya. Dia tidak diberkahi dengan kecepatan dan bukanlah pemain yang mampu menjadi orang pertama dalam melindungi barisan pertahanan. Carrick bukanlah tipikal pemain Inggris murni yang biasanya mempunyai naluri seorang box to box midfielder ataupun seorang ball winner seperti yang banyak terdapat di skuad-skuad pemain lokal di Premier League. Bakatnya sering terlupakan, bahkan disingkirkan, tetapi untuk saat ini Michael Carrick tampaknya adalah satu-satunya pemain Inggris yang mempunyai posisi natural seorang Regista.

Seiring banyaknya perubahan yang terjadi dalam posisi pemain, seorang Regista dilihat sebagai sebuah fenomena kontemporer dalam taktik. Secara umum, dalam sejarahnya, area defensif di sektor tengah biasanya ditempati oleh gelandang yang bekerja secara defensif pula tanpa diharuskan memiliki kreatifitas pada area tersebut.

Seorang pelatih yang pertama kali memperkenalkan sistem Regista adalah Vittorio Pozzo pada sekitar awal abad 20-an. Pozzo adalah pelatih timnas Italia pada 1930. Menghabiskan waktu di Inggris selama beberapa tahun untuk belajar, Pozzo mengaggumi cara bermain pemain belakang Manchester United pada waktu itu, Charlie Roberts. Roberts adalah pemain yang memiliki skill penyerangan yang bagus, padahal posisinya adalah seorang bek tengah. Dalam kasus ini, posisi Roberts adalah seorang bek tengah dalam skema tiga bek tetapi secara bergantian posisinya berubah menjadi gelandang tengah dalam formasi 2-3-5. Pozzo mengadaptasi sistem tersebut dalam caranya sendiri. Pozzo menginginkan seorang pemain tengah yang memiliki kemampuan mengalirkan bola ke depan. Dia menginginkan seorang sutradara permainan, atau dalam bahasa Italia, seorang Regista.

Vittorio Pozzo akhirnya menemukan pemain yang dia inginkan, yaitu Luis Monti, seorang pemain berkebangsaan Argentina. Luis Monti bermain untuk Argentina pada Piala Dunia 1930, dimana mereka dikalahkan oleh Uruguay di final pada saat itu. Tetapi pada 1931, Monti pergi ke Italia untuk bergabung dengan Juventus dari San Lorenzo. Dengan adaptasi yang cepat terhadap kultur cattenaccio Italia, Monti segera dipanggil oleh Pozzo untuk menjadi Regista yang dia inginkan, seorang pemain tengah dalam skema 2-3-2-3. Saat itu Monti berumur tiga puluhan, kelebihan berat badan dan tidak mempunyai kecepatan, tetapi justru itulah yang Pozzo inginkan, mundur turun ketika sedang kehilangan bola sebelum menjadi orang pertama yang menginisiasi serangan ketika sudah mendapatkan bola. Bersama Monti di jantung permainannya, tim Pozzo memenangkan Piala Dunia 1934.

Musim panas lalu, Toni Kroos bergabung dengan raksasa Spanyol, Real Madrid. Kroos adalah gelandang andalan Bayern Muenchen selama beberapa musim. Pep Guardiola tahu betul bahwa timnya memerlukan seorang pengganti Kroos yang mumpuni. Pep membutuhkan pemain yang mempunyai karakteristik mirip dengan Kroos dan juga sudah dikenal betul gaya permainannya oleh Pep. Pilihannya jatuh kepada Xabi Alonso.

Di usianya ke-32, Alonso tampak akan memulai karir barunya lagi. Meninggalkan Madrid untuk bergabung dengan Bayern. Seperti yang kita ketahui, Bayern sedang ditinggal Thiago Alcantara dan Bastian Schweinsteiger yang cedera. Alonso diharapkan menjadi penghubung lapangan dan juga seorang penjaga keseimbangan dengan kualitas permainannya. Meskipun sudah memasuki usia senja untuk seorang pesepakbola, tetapi kualitasnya tetap terjaga. Beberapa waktu yang lalu, ia mencetak rekor di Bundesliga dengan melakukan 204 passing sukses dalam satu pertandingan ketika Bayern menang 2-0 melawan FC Koln.

Guardiola menyebut kedatangan Alonso sebagai sebuah “perfect solution” dan memberikannya tempat regular di tim inti, tidak seperti yang ia dapatkan di Madrid. Alonso terbiasa bermain di poros ganda lapangan tengah, persis seperti yang Pep inginkan. Alonso diberikan kebebasan menjelajah, mundur jauh untuk turun, terkadang sejajar dengan centre-backs atau bahkan lebih dibelakangnya, hanya untuk menjemput bola dan memulai serangannya dari belakang. Seseorang yang benar-benar murni Regista. Sekarang Alonso sedang menikmati masa-masa permainanya di Bayern walaupun umurnya sudah tidak muda lagi. Ketika umur seorang pemain sudah tidak muda lagi, mereka harus mencoba mengurangi larinya serta berpikir lebih kedepan daripada sebelumnya. Dengan usia yang bertambah, pemain harus mempunyai pemahaman yang tinggi terhadap permainan, mereka harus membaca dan mengerti permainan secara lebih baik.

Jika ada seorang pemain yang tidak terpengaruh usia serta terus berada di puncak permainannya, maka orang itu adalah Andrea Pirlo. Pirlo memulai karirnya sebagai playmaker forward di Brescia. Kemudian setelah itu bergabung dengan Inter Milan lalu dipinjamkan kembali ke Brescia pada 2001 untuk mematangkan permainannya. Di Brescia, Pirlo diberikan posisi bermain di belakang striker oleh pelatih Brescia waktu itu, Carlo Mazzone.

Sebuah passing yang terkenal dari Pirlo saat di Brescia mungkin adalah umpan panjangnya kepada Roberto Baggio ketika mencetak gol saat melawan Juventus pada tahun itu. Dengan waktu yang sedikit, Pirlo memutuskan mengirimkan umpan lambung dari area belakang membelah pertahanan Juventus untuk seorang Roberto Baggio yang sedang berlari kedepan. Kontrol bola Baggio dan penyelesaian akhirnya sangatlah mengagumkan, dan itu merupakan hasil kreasi umpan Pirlo. Saat itu Pirlo masih muda. Terbayang masa depannya akan seperti apa.

Kemudian setelah itu Pirlo pindah dari Inter Milan ke AC Milan, untuk bergabung dengan pelatih Carlo Ancelotti. Pada saat yang bersamaan, Brescia mengganti Pirlo dengan Pep Guardiola, seorang legenda Regista yang sudah bertahun-tahun bermain di Barcelona. Di AC Milan, Ancelotti memainkan Pirlo di posisi baru: Deep-lying Playmaker. Bukan hanya itu saja, Ancelotti membangun tim (khususnya sektor gelandang) untuk mendukung posisi baru Pirlo ini. Dengan gaya permainan keras seorang Gennaro Gattuso dan seorang ball-winner Massimo Ambrosini di depannya, Pirlo diberikan keleluasaan untuk mengatur permainan.

Kepergian Ancelotti ke Chelsea pada 2009 dan digantikkan oleh Massimiliano Allegri secara tidak langsung menandakan akhir keabadian Pirlo di jantung permainan Milan. Allegri membawa Mark van Bommel untuk merotasi skema taktik di lapangan tengah Milan. Pada akhirnya, Pirlo diberikan secara cuma-cuma ke Juventus pada tahun 2011. Beberapa pihak menyebut bahwa Milan sudah menyia-nyiakan bakat Pirlo dengan membuang pemain berharganya.

Sudah hampir empat musim Pirlo meninggalkan Milan ke Juventus, ia sudah memenangkan semua gelar scudetto sejak saat itu. Ketika Allegri ditunjuk untuk menggantikan Antonio Conte sebagai suksesornya, Allegri tidak punya pilihan lain selain menunjukkan respek yang tinggi kepada Pirlo sebagai pusat permainan Juventus. Di Juventus, Allegri tetap menjaga keharmonisan skuad dengan memberikan ruang kepada Pirlo dalam skema regista 4-1-3-2.

Apa yang sudah Pirlo mainkan selama hampir dua dekade telah memberikan transformasi terhadap cara sepakbola Italia memperlakukan seorang deep-lying playmaker. Sebelumnya, seperti yang dijabarkan oleh para jurnalis sepakbola Italia, kultur cattenaccio bukanlah mementingkan kecepatan lari tetapi justru difokuskan ke pertahanan. Secara tradisional, pemikiran tentang menempatkan seorang playmaker di depan barisan pertahanan, seperti Pirlo, disebut sangat berisiko karena tipikal pemain yang berada di area tersebut membutuhkan kekuatan dan determinasi tinggi untuk memutus serangan lawan.

Salah satu contoh untuk memahami pernyataan tersebut yaitu ketika dulu Fabio Capello menangani Real Madrid, ia mengatakan bahwa seorang Fernando Redondo adalah pemain yang terlalu elegan untuk bermain di depan barisan pertahanan. Capello selalu menginginkan seorang pemain yang kuat di posisi itu; ia memakai Marcel Desailly di pusat lapangan tengah ketika di AC Milan, dan merasa kemampuan Redondo lebih cocok untuk ditaruh lebih kedepan.

Ketika Sir Alex Ferguson memboyong Carrick dari Tottenham Hotspur senilai £18,6 juta, ia menjadi pembelian termahal United keenam sepanjang sejarah pada waktu itu. Carrick juga diberikan nomor punggung 16 yang sebelumnya dipakai oleh seorang box to box, Roy Keane. Beberapa pengamat melihat akuisisi Carrick adalah untuk menggantikan seorang Roy, tetapi sebenarnya bukan itu yang diinginkan oleh Sir Alex. Memang, kepergian Roy Keane meninggalkan lubang di jantung pertahanan, tetapi Sir Alex tidak tertarik untuk menambal lubang itu, justru ia menginginkan pemain yang dapat menambah ketajaman serangan di lapangan tengah.

Mengetahui bahwa timnya membutuhkan gelandang penyeimbang, Ferguson menjadikan Carrick sebagai ball-playing midfielder. Kedatangannya membuat United yang terbiasa memakai formasi 4-4-2 langsung beradaptasi menggunakan campuran 4-3-3 dengan 4-2-3-1 dimana sistem tersebut melibatkan Carrick didalamnya.

Carrick tidak pernah mencapai puncak tertinggi seperti Pirlo dan Alonso miliki karena memang Carrick bukan seperti mereka yang dapat terus menjaga konsistensinya. Tidak berbeda pula ketika di timnas Inggris, Carrick selalu terpinggirkan sepanjang keikutsertaannya di turnamen besar. Dimana cuma ada dua pilihan antara Steven Gerrard dan Frank Lampard untuk mengisi pos dua gelandang tengah pada 4-4-2. Timnas Inggris menghilangkan kesempatan untuk memainkan Carrick di antara dua pemain tersebut. Baru ketika Roy Hodgson menangani Inggris, timnas baru mulai melihat keuntungan menggunakan formasi gelandang berlian dengan memainkan Carrick di tengahnya.

Memasuki usia 34, Carrick mempunyai kesempatan unjuk gigi kepada klub dan negaranya pada masa mendatang. Orang-orang mulai membayangkan seberapa lama Carrick bisa bertahan dalam permainan mengingat usianya. Tetapi mengacu kepada sang master, usia bukanlah sebuah masalah bagi seorang Regista.

Yusuf Taqwil, seorang pemerhati sepakbola yang masih kacangan.

Perspektif Saya : Guti Hernandez

GUTI

Memiliki hampir 550 penampilan, 15 trofi dan loyalitas selama 25 tahun mengabdi; Jose Maria Gutiérez Hernandez, atau biasa dipanggil Guti, adalah seorang “one club man” untuk sebuah klub terbesar di dunia.

Untuk sebagian orang, karir Guti di Real Madrid tidak pernah bisa mendapat jaminan tim inti. Bakatnya yang potensial sering tidak dianggap oleh para manajer-manajer yang melatihnya bertahun-tahun disana. Padahal Guti sering dijadikan patokan sebuah ekspektasi untuk menjadi lambang kesuksesan akademi Real Madrid oleh publik, termasuk Raul Gonzales, si anak emas.

Ekspektasi tersebut sering disebutkan oleh presiden Ramon Calderon sebagai sebuah “Janji Abadi”. Dia berharap pemain-pemain lulusan akademi bisa bersaing pula di dalam tim yang bertaburkan bintang seperti di Real. Sebagaimana yang kita tahu, bahwa ketika Florentino Perez membuat Galacticos-nya yang pertama, terjadi bentrokan kesepahaman di antara staf pelatih Real Madrid karena kebijakannya itu dan terbuka pula perselisihan dengan mengangkat isu diantara dua kubu “Zidanes-Pavones”. Kombinasi antara beban ekspektasi yang berlebihan serta Guti yang temperamental menjadikannya sulit berkembang menjadi seorang pemain bintang. Bahkan untuk seorang pemain yang memiliki professional manner pun, jika dibebankan tekanan seperti itu mungkin akan terjatuh, tapi untuk Guti itu seperti akan menggagalkan karirnya dengan besarnya ambisi para petinggi klub yang berada di sekitarnya.

Seorang gelandang, yang bisa juga menjadi striker mematikan, yang menjadi sebuah bagian kreatifitas di lapangan tengah Galacticos, Guti sering disebut bermain terlalu serakah. Di sisi lain pula, ia sering disebut perusak, tidak pernah percaya kepada rekan setimnya dan yang paling menyakitkan, Guti sering disebut tidak pantas memakai seragam Real Madrid oleh beberapa fans. Ketidak-konsistensian melekat di reputasi karirnya, dengan hanya mengecap 13 caps di timnas Spanyol selama 6 tahun pada level internasional, membuktikan bahwa anggapan-anggapan itu benar adanya.

Guti bergabung dengan Real Madrid ketika berumur 8 tahun, menjalani pertandingan bersama tim C dan B sebelum menembus tim utama ketika bermain melawan Sevilla pada tahun 1995. Pertandingan melawan Sevilla selalu spesial bagi Guti ketika ia bermain. Guti tampaknya selalu menampilkan permainan terbaiknya ketika berjumpa Sevilla.

Musim terbaik Guti datang pada musim 2000/2001 ketika Vicente Del Bosque waktu itu memintanya untuk menggantikan striker yang sedang cedera, Fernando Morientes. Guti mencetak 14 gol pada musim itu, terbanyak sepanjang karirnya dalam satu musim kompetisi, dan menjadikannya faktor penting dalam perebutan titel liga yang ke 28 untuk Los Blancos.

Permintaan Del Bosque waktu itu membuat permainannya berkembang di tim inti. Ketika striker Brazil, Ronaldo, masuk pada musim panas 2002 setelah menjuarai Piala Dunia, Guti dikembalikan ke posisi naturalnya. Ketika Zinedine Zidane pensiun pada 2006, Guti tidak diharapkan oleh sebagian besar publik Madrid untuk meneruskan posisi sebagai penghubung kreatif di lapangan tengah. Bahkan ketika dahulu dia mulai mendapatkan garansi tim inti, fans Real lebih menginginkan Guti untuk mereplikasi gaya main Clarence Seedorf, yang ketika itu hengkang ke Internazionale Milan pada 1999. Hal tersebut bukanlah yang diinginkan olehnya, dan pada sekitar bulan Juni 2003, Guti mengatakan kepada pers :

All the doors are closing on me. I was improving as a midfielder and Zidane arrived. I was improving as a forward and Ronaldo arrived. I’m now in the national team as a midfielder and Beckham comes.

Argumentasi tersebut tampak sebagai luapan kekecewaannya terhadap Real Madrid yang membuatnya sulit mengembangkan bakatnya yang potensial karena Los Galacticos tidak mengijinkannya bermain di posisi naturalnya, tetapi membuatnya bermain di banyak posisi yang mengakibatkan ia sulit menjadi seorang masterful di posisi tengah. Bintang-bintang Galacticos datang dan pergi, tetapi Guti tetap di tim itu. Guti akan selalu saya ingat sebagai seorang pemain tengah dengan passing terbaik di eranya, walaupun ia sering disingkirkan untuk memberi jalan kepada Galacticos yang datang silih berganti. Ketika kedatangannya pertama kali, Ronaldo menyebut Guti sebagai talenta terbaik di dalam tim tersebut.

guti (1)

Kejeniusannya akan sebuah imajinasi passing selalu diingat ketika saat pertandingan melawan Deportivo pada 2010. Berdiri di dekat gawang dan berhadapan dengan kiper lawan, Guti memilih melakukan back-heel kepada Karim Benzema daripada mencetak gol sendiri. Gerakannya tersebut membuat kiper lawan, yang sudah mengantisipasi tendangan, hanya bisa terjatuh di rumput ketika Benzema menendang bola masuk ke dalam gawang.

guti_vs_sevilla

Penampilannya yang lebih brillian akan sebuah imajinasi passing datang pada saat perjumpaan melawan Sevilla musim 2006/2007. Ketika itu pertandingan dilangsungkan di Santiago Bernabeu. Tim Fabio Capello saat itu tertinggal 0-1 sampai pertengahan babak. Dan pada awal second half, Guti dimasukkan oleh Capello untuk menggantikan Raul dan menggantikan ban kapten. Dalam penampilan penggantinya selama 45 menit, Guti menunjukkan kelasnya dengan memberikan dua passing brilian yang menghasilkan assist untuk Ruud van Nistelrooy dan Robinho serta membawa Madrid membalikkan skor menjadi 3-1. Seketika timbul anggapan, inilah pemain yang bisa menggantikan posisi Zidane di lapangan tengah, memainkan bola dengan tenang dan menyerang dari bawah.

Tapi sayangnya, penampilan Guti tidak stabil pada musim itu. Ketika Capello mengambil alih tongkat kepelatihan pada 2005/2006, ia menginginkan untuk membangun tim di sekitar Guti. Capello beranggapan bahwa kemampuan dan bakat Guti bisa terpenuhi jika mendapat support dan bantuan tim. Ini membuat Calderon dan para fans pada waktu itu kurang begitu menyukai Capello.

Pada akhirnya Capello menyadari bahwa ia tidak bisa menggantungkan kepercayaan kepada Guti yang sering menjadi pemain yang merusak skema taktik dan menjadi figur yang tidak diinginkan ketika dimainkan sejak awal pertandingan babak pertama. Akibatnya penampilan sebagai pemain pengganti mulai sering diberikan kepada Guti. Dalam porsi yang kecil dan pada menit bermain yang sedikit, Guti akan menjadi pemain yang extremely effective.

Sifatnya yang temperamental adalah sebuah ganjalan untuk memaksimalkan bakatnya. Guti terkenal dengan kecemburuannya terhadap bintang-bintang yang datang silih berganti di Bernabeu. Alih-alih menimbulkan bentrokan terhadap bintang-bintang tersebut, Guti tampaknya memang senang menjadi pusat perhatian publik Madrid.

sevilla guti

Pernyataannya tentang gaya feminin para pesepakbola di luar lapangan tidak berhubungan dengan permainan sepakbola itu sendiri, mendapat perhatian publik Sapnyol pada umumnya. Ketika menghadapi Sevilla (lagi) pada 2009, Guti terprovokasi fans lawan dan terlihat meludahi salah seorang pemain Sevilla dan terjadi keributan ketika itu. Sontak para pemain melerai keributan tersebut. Guti terprovokasi permainan keras lawan dan juga teriakan-teriakan fans di tribun yang mengejeknya dengan memplesetkan namanya menjadi “Puti” alias “Jalang”.

Rumor berkembang bahwa ia adalah seorang trans-seksual, dan yang paling diangkat oleh publik adalah ketidaksukaannya kepada David Beckham. Ketika itu publik sering membanding-bandingkan kedua pemain dengan kedua karakternya. Keduanya mempunyai bakat yang hebat sebagai lulusan akademi masing-masing klub, keduanya juga mempunyai persamaan mengatur gaya rambutnya masing-masing. Kemudian, eksistensi seorang David Beckham mendapat komentar tersendiri dari Guti :

FILE+David+Beckham+Retire+Football+End+Season+sPvPyUwyAO_l

The rumours of potential signings do not bother me but it is not right that all the coverage is for Beckham before a game in La Liga. I do not understand, nor do I believe that it is right that for what we are playing for is gaining less coverage than Beckham.

Ketika ia benar-benar bergabung pada 2003, Beckham menjadi Galactico terakhir yang disambut oleh Guti untuk beradaptasi dengan baik disana. Ketika hubungan mereka berdua tidak pernah benar-benar harmonis pada mas empat tahun kontrak Beckham disana, Guti langsung mengucapkan kelegaannya ketika Beckham memutuskan pindah ke LA Galaxy pada 2007 :

Things have settle down. Beckham’s exit has calmed everything down. With him moving so has a lot of press. The departure of the famous players has brought a fresh air to the squad.

Ketika Guti memutuskan meninggalkan Madrid menuju Besiktas pada 2010, ia menggambarkan karirnya selama di Real Madrid. Untuk ukuran pemain yang telah menjadi wakil kapten selama bertahun-tahun disana, mengalami pergantian manajer berkali-kali, dan mengumpulkan lebih dari 500 penampilan, Guti tidak pernah merebut hati para fans Madrid. Keinginan Ramon Calderon untuk menjadikan bakat lulusan akademi berkembang ternyata berbanding terbalik dengan kebijakan klub dalam memburu pemain bintang.

Sejarah mencatat bahwa dua gol penting Real Madrid, gol ke 5000 Real Madrid di La LIga dan gol ke 500 mereka di Liga Champions, keduanya dicetak oleh Guti Hernandez. Biarpun dengan segala ketidakstabilan performance level nya, Guti merepresentasikan kemampuan bertahan seorang pemain akademi di era Galacticos. Guti akan tercatat selamanya di hall of fame Real Madrid yang sayangnya tidak diharapkan oleh banyak orang.

Yusuf Taqwil, pemerhati sepakbola yang masih kacangan.

Bir non Alkohol, dan kesalahpahaman terhadap definisi Khamr

uchan

“Semua yang memabukkan adalah khamr dan semua khamr adalah haram.” (HR. Muslim no.2003)

Sekitar akhir dasawarsa 90-an, saya pernah bepergian ke luarnegri untuk mengunjungi sanak keluarga yang sedang belajar di negri itu, dan karena penduduk negri itu (tentu saja) mayoritasnya adalah non-muslim, maka saya dari awal sudah berharap bisa mencicipi bir non-alkohol yang belum ada di negri saya pada saat itu

dan saya terkejut dan kagum pada komunitas pelajar di sana, mereka sangat hati-hati pada setiap makanan dan minuman yang mereka akan konsumsi, jika ada hal yang tidak jelas maka mereka akan meninggalkannya, terutama juga untuk bir non-alkohol yang mereka tidak minum karena menurut mereka itu tidak halal.

sifat tersebut adalah cermin dari kebaikan akidah para pelajar di negri itu, dan saya sangat kagum pada hal itu, karena mereka banyak mendapatkan tantangan untuk melakukan ritual ibadah-ibadah sehari-hari, namun hal itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk menerapkan dan menjalankan ritual Islam…

Lihat pos aslinya 332 kata lagi

Future of Football Tactics

champions-league-2014-2015-bayer-leverkusen-erreicht-die-cl-gruppenphase

Masih teringat betul oleh saya, bagaimana jalannya pertandingan first leg antara Bayer Leverkusen yang menjamu tamunya Atletico Madrid dalam babak penyisihan pertama Liga Champions Eropa beberapa waktu yang lalu. Pertandingan tersebut dimenangkan oleh Bayer Leverkusen dengan skor 1-0. Melihat sekilas hasil skornya, bisa disebutkan bahwa itu merupakan pertandingan membosankan karena sepi halam hasil gol. “Enggak rame!”, kata teman saya. Itu komentar sekilas saja sih, tapi untuk saya yang mengikuti siaran langsungnya terlihat ada beberapa bagian pertandingan yang menarik untuk dibahas. Suatu peragaan perang taktik yang menurut saya akan menjadi sebuah masa depan di dalam perkembangan sepakbola modern.

Leverkusen sendiri memakai taktik standar mereka 4-4-1-1, dimana seorang Lars Bender diplot dalam posisi gelandang tengah (holding midfielder) dan seorang Halkan Calhanoglu diposisikan sebagai gelandang serang di posisi tepat belakang striker. Sedangkan Atletico memakai formasi baku 4-4-2 yang biasa mereka mainkan di semua ajang yang mereka ikuti musim ini. Atletico adalah tim yang akhir-akhir ini dikenal sebagai tim spartan cenderung keras karena mengikuti filosofi permainan dari sang pelatih mereka. Uniknya disini adalah peragaan permainan spartan yang dijalankan oleh Atletico tidak melulu berbuah pelanggaran yang merugikan diri sendiri. Taktik defensif dengan clearance dan cut the pass mereka peragakan dengan bagus. Sepertinya permainan Atletico ini menjadi standar tersendiri untuk tim-tim yang lain dalam melakukan strategi defence.

Pemahaman taktik itu pulalah yang menginspirasi Bayer Leverkusen dalam pertandingan itu untuk mencoba menghadapi perlawanan Atletico. Leverkusen mencoba menerapkan sebuah counter strategy dari taktik pressing milik Atletico. Dalam pemahaman saya, taktik Leverkusen terlihat lebih mematikan daripada taktik Atletico. Pemain-pemain Leverkusen mematikan ruang passing Atletico dengan cara menutup pergerakan off the ball pemain lawan sesering mungkin. Perhitungannya adalah: setiap satu pemain Atletico memegang bola, mereka dihadapkan dengan dua orang marker Leverkusen dan setiap terlihat ruang kosong untuk membagi bola maka dengan sigap pula pemain Leverkusen menutup ruang kosong tersebut. Jadi, ketika ada celah untuk melakukan sebuah passing pendek guna mendapatkan penguasaan bola, ruang tersebut dipersempit oleh pemain Leverkusen. Seketika saya langsung berpikir bahwa taktik Ateltico ternyata sudah ditemukan counter strategy nya oleh pelatih Leverkusen. Dengan menutup ruang passing, jangankan membagi bola, pemain on the ball pun seketika susah bergerak lepas dari kawalan marker. Hal tersebut dilakukan Leverkusen sepanjang pertandingan. Juga yang perlu dicermati adalah bagaimana pemain Leverkusen bisa dengan cepat melakukan serangan balik setelah terjadi perebutan bola. Perlu diingatkan pula bahwa pemain-pemain Leverkusen melakukan pressing tidak di area pertahanan lawan, tetapi justru memancing pemain Atletico maju ke daerah Leverkusen hanya untuk sekedar membuat pressing di daerahnya sendiri. Serangan balik yang cepat setelah terjadi perebutan bola adalah hal yang sulit dilakukan tanpa stamina yang benar-benar prima. Leverkusen adalah tim yang mengandalkan kekuatan fisik pemainnya dalam menjalankan taktik. Bundesliga merupakan gudang dari pemain-pemain yang memiliki atribut fisik yang besar (selain Ligue One tentunya). Bagaimana dengan Premiere League? Secara pribadi, saya bisa mengatakan bahwa Liga Inggris bukan liga yang berat secara fisik lagi. Sebabnya adalah keglamoran transfer yang dilakukan klub-klub Liga Inggris membuat standar kekuatan fisik menjadi berkurang ditambah pula dengan variasi taktik yang dilakukan oleh pelatih-pelatih Liga Inggris yang kebanyakan berasal dari Eropa daratan telah sedikit banyak merubah pendekatan Kick and Rush. Walaupun begitu juga tidak bisa dipinggirkan fakta bahwa jadwal pertandingan di Inggris sangat padat.

Jika ingin diaplikasikan terhadap beberapa tim-tim besar yang sedang mengalami penurunan performa akhir-akhir ini, maka taktik pressing seperti yang disebutkan di atas cocok diterapkan. Alasannya adalah beberapa segi dari taktik tersebut tidak mengharuskan pemain memiliki keunggulan teknik, cukup dengan stamina prima dan kecepatan lari sudah menjadi faktor penting untuk menjalankan strategi ini. Ketika dalam situasi serangan balik, pemain dituntut untuk mengoptimalkan sebuah kesempatan serangan yang terjadi hanya dalam hitungan detik. Role pemain menjadi tidak penting ketika melakukan serangan balik, siapapun pemain yang sedang berada dekat dengan serangan diharuskan membantu tim. Tidak peduli ketika itu adalah seorang pemain belakang sekalipun.

Sebuah determinasi untuk mengalahkan lawan dan memenangi pertandingan lebih krusial daripada sekedar menyajikan permainan indah yang menghasilkan banyak gol. Jika anda menjadi seorang pelatih, mempunyai pemain hebat berharga mahal, bergaji tinggi dan anda sudah merubah berbagai macam taktik serangan tetapi masih belum juga meraih prestasi tertinggi, maka ijinkan saya memakai sebuah kutipan dari teman: ”Mungkin pemain anda yang malas?”.

PROP141025-062-Liverpool_Hull

 

Yusuf Taqwil, Pemerhati sepakbola yang masih kacangan